Selasa, 19 Juli 2011

Bandung, Laboratorium Arsitektur

Kota Bandung terbilang mujur karena masih memiliki salah satu kekayan yang amat berharga. Kota ini bukan hanya merupakan peninggalan masa keemasan penjajahan Belanda, di mana pernah dijadikan Pusat Garnizun Hindia Belanda dan pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.P. Graaf Van Limburg Stirum (1916-1921) direncanakan sebagai pusat pemerintahan sipil.

Walau rencana itu akhirnya terbengkalai, namun tak urung juga kota ini menjadi salah satu kota yang kaya peninggalan sejarah dan seni budaya bangunan. Di kota ini terdapat aneka gaya bangunan seperti Belanda Kuno, Belanda Indische, Klasisme yang berpadu dengan unsur-unsur lokal, neoklasisme, dan Art Noeveau. Pantas jika ada yang menjuluki kota ini sebagai “Laboratorium Arsitektur Kolonial di Nusantara” karena sebagian besar bangunan-bangunan itu tidak ada yang mencerminkan bangunan etnik tradisional. Kecuali bangunan induk kampus Institut Teknologi Bandung.

Bangunan hasil rancangan Ir. Maclaine Pont itu beratap sirap berbentuk lancip pada kedua ujungnya. Orang-orang Sunda menyebut bentuk atap itu julang ngaplak, satu bentuk atap yang menjadi ciri khas bangunan rumah tradisional Sunda. Tetapi pada kedua ujung atap bangunan tersebut tidak terdapat bentuk huruf “V” yang sering disebut capit hurang atau capit udang. Sementara orang-orang Minangkabau menyatakan, atap bangunan tersebut meniru atap rumah gadang yang merupakan rumah tradisional masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat.

Yang menarik, konstruksi bangunannya terbuat dari kayu namun tak kalah kokoh denga bahan yang terbuat dari besi. Bangunan itu merupakan perpaduan yang harmonis antara bentuk gaya arsitektur tradisional. Beda dengan bangunan hasil rancangan Prof. C.P. Wolff Schoemaker yang hanya memberi elemen hiasan Batara Kala seperti dijumpai pada bekas gedung bioskop Majestic di Jalan Braga.
Namun berkat kehadiran bangunan-bangunan tua bergaya arsitektur Art Deco, pada tahun 2001 kota ini dianugrahi predikat penghargaan sebagai kota ke-9 dari 10 World Cities of Art Deco karena memiliki koleksi gedung-gedung lama berlanggam Art Deco. Kenyataan ini sekaligus menunjukkan adanya kesinambungan dalam sejarah pertumbuhan dan perkembangan  Kota Bandung. Jika diurut ke belakang, perjalanannya diawali dari sebuah dusun sunyi di pegunungan menjadi sebuah kota, diawali dengan kehadiran orang-orang Belanda dan Eropa lainnya.

Sebagai tempat yang menjadi pusat perkebungan para pengusaha berkebangsaan Belanda yang dijuluki Preanger Planters, kota ini dijadikan tempat tinggal dan sekaligus tempat peristirahatannya. Kecambah itu sebenarnya sudah tumbuh ketika tahun 1856, pada saat ditetapkannya menjadi Ibu Kota Keresidenan Priangan. Tetapi  kepindahan Residen Van der Moore dari Cianjur ke Bandung barulah dilakukan tahun 1864, bersamaan dengan letusan dahsyat dan gempa kuat Gunung Gede (2.958 meter). Selama abad ke-19, gunung tersebut memperlihatkan kegiatannya hampir tak pernah berhenti.
Bangunan yang dijadikan tempat tinggal Residen Van Der Moore terletak di jalan utara jalan yang kini dinamakan Jalan Oto Iskandar Dinata. Bangunannya dengan gaya arsitektur Indische Empirestijl dikerjakan selama tiga tahun, sejak tahun 1864-1867, menempati lahan yang sangat luas. Halaman depannya merupakan taman yang tertata apik. Bangunan yang kini dinamakan Gedung Pakuan itu mengingatkan akan nama pusat Kerajaan Sunda di Pajajaran di Pakuan atau Bogor sekarang. Setelah kemerdekaan, bangunan itu dijadikan tempat kediaman resmi Gubernur Jawa Barat. Sezaman dengan bangunan tersebut, bangunan yang kini dijadikan Markas Kepolisian Wilayah Kota Besar (Mapolwiltabes) Bandung di Jalan Merdeka yang diresmikan tanggal 23 Mei 1866.
Kota Bandung sebenarnya memiliki tiga bangunan kembaran gaya arsitektur Indische Emporostijl jika saja bangunan yang dijadikan  Gedung Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat di Jalan Asia-Afrika tidak dibongkar. Bangunan itu merupakan mode bangunan yang disegani pada zaman Gubernur Jenderal Daendels.

Hampir sezaman dengan bangunan tersebut, bangunan tua lainnya dengan gaya arsitektur Romatik Gotik, diterapkan secara bulat-bulat pada Gedung Departemen Peperangan (Departement van Oorlog) Hindia Belanda. Bangunan di Jalan Kalimantan itu kini dijadikan Departemen Markas (Denma) Komando Daerah Militer (Kodam) III/Siliwangi.  Letaknya hampir bersebelahan dengan bangunan Kodam III/Siliwangi di Jalan Aceh yang sebelumnya digunakan sebagai Istana Panglima Perang Tertinggi Hindia Belanda.


Menelusuri sebagian wilayah Kota Bandung bagian utara bukan hanya menikmati sebagian dari sejarah kotanya. Melalui bangunan-bangunan tua yang mengisi setiap ruang yang tersedia kita dihadapkan pada kenyataan bahwa kota ini dirancang mirip dengan miniatur kota di Eropa sebagaimana diharapkan perancang kota Thomas Karsten.
Lewat gagasannya yang kemudian disebut Karsten Plan, perancang kota yang genial itu membagi peruntukkan lahan dan bangunan permukiman penduduk berdasarkan etnis. Yakni bangsa Belanda dan Eropa lainnya, China dan pribumi. Tetapi, tentu saja kepentingan kelompok minoritas orang-orang Belanda dan Eropa lainnya memperoleh porsi dan prioritas yang lebih besar. Bangunannya dinamakan Open Western-bouw, terdiri dari bangunan-bangunan yang berdiri sendiri. Lahannya luas, berada dalam satu wilayah yang ditata dengan apik.

Berdasarkan rancangan itu, ia mengajukan perluasan wilayah Kota Bandung dari semula 2.835 hektar pada tahun 1930, menjadi 12.758 hektar pada tahun 1955 dengan jumlah penduduk 750.000 jiwa. Sesuatu yang dikemudian hari menjadi masalah berat akibat perluasan yang tertunda-tunda sementara ledakan penduduk terus meningkat. Baik karena kelahiran maupun urbanisasi akibat ekonomi dan gangguan keamanan di daerah sekitar. Namun untungnya, sebagian besar bangunan-bangunan hasil rancangan pada masa kolonial tersebut sudah terealisir. Bahkan pembangunan sudah selesai, jauh sebelum Belanda menyerah pada Jepang pada tanggal 8 Maret 1942.
Bangunan tua yang menjadi tonggak sejarah perkembangan Kota Bandung ini sekaligus menjadi mata rantai sejarah perkembangan arsitektur di Nusantara. Ditandai dengan kebangkitan gaya arsitektur Art Deco yang mencapai puncak keemasannya pada tahun 1920-an yang kemudian berkembang luas pada tahun 1930-an.
Langgam ini merupakan suatu gabungan dari beragam gaya yang dituangkan dalam sebagai suatu gaya dekoratif yang indah. Karakternya terlihat dalam bentuk bangunannya yang geometris yang kuat, garis-garis yang tajam dan jelas, serta warna yang mencolok. Di Bandung, bangunan-bangunan tua dengan gaya arsitektur ini antara lain bangunan Grand Hotel Preanger Aerowisata, Hotel Savoy Homann Bidakara, Komando Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI/AD yang dulunya dikenal Gedung Jaarbeurs, Villa Isola, bekas gedung Gas Negara dan sejumlah bagnunan lainnya di sepanjang jalan Braga, Gedung Merdeka, Gedung Bank Jabar, dan masih banyak lagi jumlahnya.
Gedung-gedung ini pada umumnya dibangun pada periode yang sama, setelah tahun 1920-an. Maka bisa dibayangkan, betapa sibuknya Kota Bandung saat itu. Di tengah kemiskinan dan penderitaan yang meliliht penduduk pribumi, pemerintah kolonial Hindia Belanda membangun gedung-gedung megah secara besar-besaran di daerah jajahannya. Entah berapa anggaran dihabiskan, mengingat selama kurun waktu 20 tahun dari tahun 1920-1940 Kota Bandung sudah memiliki lebih dari 400 bangunan modern dengan berbagai gaya arsitektur. Sebagian besar diantaranya Art Deco, karya sekitar 60 pernancang bangunan (arsitek).
Staf pengajar Institut Teknologi Bandung (ITB) dan pengurus lembaga swadaya masyarakat Bandung Heritage, Dr. Ir. Dibyo Hartono yang mengutip buku Architectuur Stedebouw in Indonesia 1870-1970 karya Huip Akihary mengungkapan, sekitar 17 orang dari sebanyak 60 perancang bangunan itu tergolong perancang ternama. Mereka antara lain kakak-adik R.L.A. Schoemaker dan C.P. Wolff Schoemaker, F.H. de Roo, Edward Cuypers, J. Greber, A.F. Aalbers, F.J.L. Ghijels, A.W. Gmelig Meijling, A.A. Vermont, de E.H. Psio, F.W. Brinkman dan masih banyak nama-nama lainnya.

Bahkan tak kurang dari Ir. Soekarno yang memberi sumbangan hasil rancangannya. Selain bangunan rumah tinggal, ia pernah membantu Prof. C.P.Wolff Schoemaker, gurunya di Technische Hoogeschool (TH) yang membuka biro perancang ketika merencanakan bangunan penjara sukamiskin. Ironisnya, Soekarno sendiri pernah mengalami hukuman di penjara tersebut selama dua tahun karena kegiatan politiknya membangun kekuatan Partai Nasional Indonesia (PNI).
Pembangunan bangunan-bangunan modern di  Kota Bandung sudah diawali sejak menjelang akhir abad ke-19. Selain bangunan militer Departement van Oorlog karya perancang Ir. Ghijels yang dibangan pada awal abad ke-20 dengan gaya Romantik Gotik dan bangunan gedung HIK dengan gaya Indische Empirestijlm beberapa bangunan yang menonjol karya para perancang tersebut antara lain Gedung Sate (karya perancang J. Gerber), Kampus Institut Teknologi Bandung karya Maclain Pont, Gedung Merdeka karya Prof. C.P. Wolff Schoemaker, Gedung Bank Indonesia cabang Bandung karya Edward Cuypers, Gedung Gas Negara karya Prof. C.P. Schoemaker, Hotel Savoy Homann Bidakara karya A.F. Aalbers, Grand Hotel Preanger Aerowisata karya Prof. C.P. Wolff Schoemaker dan masih banyak lagi bangunan lainnya.
Seperti bangunan-bangunan lainnya, Villa Isola yang merupakan garapan utuh dan sempurna dari Prof. C.P.Wolff Schoemaker menonjolkan gaya Art Deco, gaya seni yang saat itu sedang berkecamuk di Eropa sehabis Perang Dunia Pertama. Bangunan milik D.W. Barety, pendiri Kantor Berita Aneta (Algemeen Nieuws en Telegrammen Agentschap) itu, pada mulanya merupakan tempat peristirahatan yang dipersembahkan untuk istrinya yang cantik.
Di bangun di atas sebuah bukit yang terletak di jalan Setiabudhi 299, bentuk bangunannya sangat menonjol karena mirip dengan sebuah kapal laut yang sedang berlayar. Jika kita berdiri di atas teras yang menyerupai geladak, di sebelah kanan tampak Kota Bandung. Sebaliknya jika pandangan diarahkan ke utara tampak Gunung Tangkubanperahu. Pembangunan gedung tersebut dimulai bulan Oktober 1932 dan dikerjakan dengan sangat cepat, sehingga pada bula Maret 1933 sudah rampung. Pada akhir tahun gedung itu sudah ditempati.

Ketika tahun 1934, Ir. W. Lemei meninjau gedung tersebut, ia sangat mengagumi, katanya, jika kita membuka pintu kamar, dari teras akan tampak halaman yang luas. Kamar-kamar itu seolah menyatu dengan halaman. Dari teras bagian timur, terdapat tempat yang menyenangkan untuk makan pagi. Di lantai dua terdapat studio untuk memutar filem yang dilengkapi dengan bar tempat minum-minum. Dengan cita rasa yang tinggi, Barety menciptakan suasana istimewa di ruang ini, sehingga rasanya seperti berada di Paris. Ia melengkapi isi kamar-kamarnya dengan mebelair yang didatangkan dari Perancis. Lampu-lampunya didatangkan dari Venesia.
Pada malam hari, bagian kiri-kanan bangunan terang benderang karena penerangan lampu sorot. Namun sadar bahwa ia hidup di negeri orang lain yang nasibnya tertindas, Barrety melengkapi keamanan rumahnya dengan sirene yang bisa dibunyikan dair kamarnya. Suaranya keras, sehingga bisa membangunkan orang sekampung. Saat itu, Villa Isola masih termasuk berada di luar Kota Bandung.
Pemilik villa yang megah itu meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang di Bombay, India dalam suatu “rally udara” antara Sidney-London. Pesawatnya yang diberi nama De Uivel, jatuh dan hancur terbakar. Akan halnya nasib bangunannya kemudian berpindah-pindah tangan sejalan dengan perkembangan politik yang terjadi.





Selain pernah dijadikan hotel, pada zaman pendudukan Jepang Villa Isola diubah menjadi museum tempat menyimpan alat-alat perang Belanda yang disita. Ketika tempat tersebut dikosongkan, Villa Isola pernah dijadikan tempat penyelegaraan Kongres Pemuda yang berlangsung dari tanggal 16-18 Mei 1945.
Bangunan yang cantik dan kokoh itu sempat dijadikan markas para pejuang, sehingga pada tanggal 16 Februari 1946, gedung tersebut dibombardir dari darat dan udara. Dengan dalih untuk menyelamatkan para interniran yang terdiri dari orang-orang Belanda, pasukan NICA dibantu kesatuan Gurkha yang tergabung dalam pasukan Inggris menyerbu gedung tersebut dengan menggunakan truk, tank dan pesawat udara. Para pejuang berusaha mempertahankan diri, namun musuh tak bisa dihalau.

Pada tahun 1954, gedung Villa Isola dibeli oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan perantaraan Menteri Pendidikan Pengajaran  dan Kebudayaan Mr. Moh. Yamin. Namanya kemudian diganti menjadi Bumi Siliwangi. Gedung tersebut kemudian dijadikan Gedung Rektorat Pergruruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) yang kemudian berubah menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Namun setelah tahun 1963, P.T.P.G. berubah menjadi Istitut Ilmu Pendidikan (IKIP) dan terakhir menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Di negara-negara maju, bangunan-bangunan tua dipertahankan sebagai salah satu kekayaan kota yang memiliki daya tarik untuk wisatawan. Potensi ini sangat memungkinkan dikembangkan di Kota Bandung, namun sayangnya, kekayaan yang tidak ternilai itu kurang mendapat perhatian yang memadai. Bahkan sebagian bangunan-bangunan tua tersebut sudah banyak yang rata dengan tanah karena dianggap kuno dan tidak sesuai dengan kebutuhan zaman.

Contohnya, berdekatan dengan simpang lima jalan Sunda, Jalan Asia Afrika, Jalan Jenderal Gatot Subroto dan Jalan Jenderal A. Yani, pada tahun 1930 di sana didirikan gedung dengan arsitektur Art Deco hasil rancangan A.F. Brinkman. Gedung itu dinamakan Gedung Singer karena merupakan pusat penjualan mesin jahit Singer pertama di Bandung, yang memasok kebutuhan nyonya-nyonya Belanda untuk mengisi waktu luangnya dengan menjahit.
Akan tetapi, pada tahun 1992, gedung tersebut dibongkar, walau mendapat reaksi keras dari berbagai elemen masyarakat, di antaranya Bandung Heritage. Bahkan tak kurang dari Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup Prof. Emil Salim dalam suratnya tanggal 15 September 1992 meminta perhatian Gubernur Jabar atas rencana pembongkaran tersebut. Tetapi, ya itu tadi. Ibarat pepatah “anjing menggonggong kafilah berlalu”, nasib gedung itu akhirnya rata dengan tanah.
Kejadian itu bukan untuk yang pertama dan terakhir kali terjadi. Karena saat itu Kota Bandung belum memiliki peraturan daerah yang melindungi bangunan tua dan bersejarah, gedung lux Vincent di Jalan R.E. Martadinata bernasib tragis. Gedung itu rata dengan tanah. Dari sekitar 19 bangunan di sana,kini hanya tinggal 4-5 bangunan saja. Padahal tahun 1919, gedung tersebut merupakan tolok ukur pengembangan dan perluasan Kota Bandung ke arah utara dan timur.

Nasib yang sama dialami gedung Radio Nirom yang terletak di Jalan Bukit Tunggul dan gedung Wisma Siliwangi di Jalan Ciumbuleuit. Radio Nirom dalam salah satu fase perjalanannya pernah berjasa bagi pemersatu bangsa di masa awal kemerdekaan. Akan halnya Wisma Siliwangi, bangunan bertingkat dua, merupakan bangunan bergaya modern dengan sentuhan streamlined deco. Didirikan di atas lahan yang luas, bangunannya dinaungi pohon besar yang rindang sehingga terkesan teduh dan kharismatik.

Jika ada yang bertanya sudah berapa bangunan-bangunan tua yang memiliki nilai arsitektur tinggi dan bersejarah yang sudah hilang dari muka bumi  Kota Bandung, jumlahnya sudah tak terhitung lagi. Hanya sedikit sekali yang berhasil diselamatkan. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Berkat kesadaran pemiliknya, gedung Heritage yang terletak di sudut Jalan Banda dengan Jalan R.E. Martadinata, gedung Landmark di  Jalan Braga, dan gedung Interlink di Jalan Wastukencana berhasil dipertahankan keberadaannya.

Pernah bangunan rumah dan hasil rancangan Prof. C.P. Wolff Schoemnaker di Jalan Sawunggaling 2 yang dibangun tahun 1927 mengalami nasib yang hampir-hampiran. Sekitar 30-40 persen bangunan itu sudah dibongkar. Sebagian kusen-kusen pintu dan jendela sudah dicopot, bahkan sebagian sudah hilang. Kolom-kolomnya sudah dihancurkan. Rencananya, di atas lahan bekas bangunan tersebut akan didirikan gedung bertingkat. Namun berkat sikap pemiliknya yang tanggap, rencana itu dibatalkan walaupun sudah mengantongi izin dari Pemda Kota Bandung. Dengan bantuan Bandung Heritage, bentuk dan kondisi bangunan tersebut akhirnya berhasil di kembalikan seperti bentuknya semula.

Akan tetapi, berapa pemilik bangunan yang memiliki kesadaran seperti itu. Sebagian besar lainnya, nasib bangunan-bangunan itu kalah oleh kekuatan rezin ekonomi sehingga di atasnya kini sudah berdiri bangunan-bangunan modern bertingkat untuk pusat perbelanjaan.

Bangunan-bangunan tua di Bandung, selain memiliki nilai arsitektur tinggi, tidak sedikit yang memiliki nilai sejarah. Salah satu di antaranya Gedung Sate karya perancang J. Gerber, yang kini merupakan landmark Kota Bandung. Gedung ini pernah diduduki dan dijadikan Markas Divisi India ke-23 di bawah pimpinan Mayjen D.G. Hawthron yang ditugaskan di Jabar. Divisi India tersebut merupakan satu dari tiga divisi yang tergabung dalam pasukan Allied Force Netherlands East Indies (AFNEI) yang mendarat di Jakarta tanggal 29 September 1945.

Pendudukan dilakukan setelah terjadi pertempuran tidak seimbang antara pasukan Gurkha dengan para pemuda yang tergabung dalam Angkutan Muda PU yang mengakibatkan tujuh pemuda gugur. Menjelang terjadinya Peristiwa Bandung Lautan Api, Gedung Sate menjadi saksi perundingan antara Mayjen Hawthron dengan pihak Indonesia yang terdiri dari Panglima Komandan Komandemen Jabar Mayjen Didi Kartasasmita, Menteri Muda Keuangan Mr. Sjafrudin Prawiranegara, Komandan Divisi III Kolonel A.H. Nasution, dan wali kota Bandung R. Sjamsurizal (1945-1946).

Berdasarkan hasil inventarisasi bangunan bersejarah yang dilakukan Bandung Heritage, di Bandung terdapat kurang lebih 630 buah bangunan. Sekitar 150 buah diantaranya dikategorikan kelas utama yang harus dilestarikan. Dari bangunan bersejarah tersebut, perjalanan sejarah paling panjang dilalui Gedung Merdeka.
Bangunan gedung yang sebelumnya merupakan tempat perkumpulan orang-orang Belanda dan Eropa lainnya yang tergabung dalam Societet Concordia itu, Gedung Mereka dan Gedung Dwiwarna pernah dijadikan tempat penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955. Bahkan setelah itu, Gedung Merdeka pernah dijadikan Gedung Konstituante yang berakhir dengan Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 setelah gagal menyetujui kembali ke Undang-undang Dasar 1945.

Dalam pemungutan suara pertama tangal 30 Mei 1959, dari 478 anggota yang hadir, 199 suara menolak. Menyusul dalam pemungutan suara kedua kalinya tanggal 1 Juni, dari 469 anggota yang hadir, 264 suara setuju dan 204 suara lagi tidak setuju. Pemungutan suara yang terakhir tanggal 2 Juni dihadiri 468 anggota, sebanyak 263 suara setuju dan 203 suara menolak/tidak setuju.

Sampai tahun 1971, Gedung Merdeka masih digunakan sebagai Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementar (MPRS) yang terbentuk tahun 1960. Pengisian gedung tersebut bisa silih berganti, bahkan setelah terjadi pemberontakan G30S/PKI, sebagian ruangannya dijadikan tempat tahanan. Tetapi selama itu, nama bangunan tersebut tidak pernah berubah: Gedung Merdeka.

Bangunan Gedung Merdeka terdiri dari bangunan utama, bangunan sayap kiri dan bangunan sayap kanan. Bangunan sayap kanan ditempati Pusat Studi Asia-Afrika dan negara-negara berkembang yang diresmikan tangggal 27 April 1983. Sedangkan bangunan sayap kiri ditempati Museum Konferensi Asia-Afrika. Peresmiannya dilakukan Presiden Soeharto pada tanggal 24 April 1980, bertepatan dengan peringatan perayaan Konferensi Asia-Afrika ke-25.

Citra Bandung sebagai miniatur kota Eropa diperkuat dengan kehadiran sejumlah taman bergaya Eropa sehingga mempercantik lingkungannya. Taman-taman itu terbagi dalam beberapa kategori. Ada yang disebut park (taman), plein (pelataran berumput), boulevard (taman di tengah ruas dua jalan yang letaknya sejajar), standstuin (ruang terbuka berupa hutan kota yang merupakan areal konservasi untuk pembibitan dan tertutup untuk umum), dan platsoen, yakni tempat pembibitan tanaman keras yang bentuk tamannya memanjang.