Selasa, 19 Juli 2011

Bandung, Berawal dari Dasar Samudra Dalam

Seniman-seniman Sunda punya cara untuk melukiskan keindahan daerahnya. Melalui sebait lagu, bisa diketahui bahwa Bandung merupakan dataran tinggi yang memiliki keistimewaan. Di sekelilingnya berjejer gunung-gunung, sehingga kotanya ini dijuluki di lingkung gunung. Kota Bandung merupakan pusat dataran tinggi Bandung yang bentuk morfologi wilayahnya tidak beda dengan sebuah mangkok raksasa.
Wilayah dataran tinggi Bandung, secara administrasi pemerintahan terdiri dari Kabupaten Bandung. Di mana pada bagian tengah wilayahnya terdapat wilayah Kota Bandung dan Kota Cimahi. Topografi kedua wilayah terakhir ini lebih rendah dibanding dengan sebagian wilayah kabupaten Bandung, terutama yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Subang, Sumedang dan Kabupaten Garut yang terdiri dari gunung-gunung.

Karena kondisi wilayahnya seperti itu, Dataran Tinggi Bandung sering disebut cekungan Bandung. Bentang alamnya mirip dengan sebuah mangkok raksasa yang dikelilingi gunung-gunung berapi. Di bagian tengahnya, pada satu dataran yang paling rendah mengalir Sungai Citarum. Alirannya yang pernah terbendung secara alami, menjadi sumber inspirasi lahirnya cerita rakyat Sangkuriang.

Cekungan Bandung bisa dinikmati jika kita berada di suatu tempat yang agak tinggi seperti dari atap bangunan bertingkat yang terletak di pusat kota. Atau yang paling enak, pemandangan di sekitar dataran Tinggi Bandung bisa dinikmati dari segala penjuru arah melalui menara kembar Masjid Raya Bandung – Provinsi Jawa Barat setingi 81 meter. Cukup dengan merogoh kocek Rp. 2.000,00 kita bisa memandang dataran tinggi Bandung sepuas-puasnya. Apabila pandangan diarahkan ke utara, di sana berjejer gunung api Burangrang (2.064 meter), Gunung Tangkubanperahu (2.076 meter), Bukit Tunggul (2.209 meter), Gunung Cangak dan Gunung Manglayang.

Di sebelah timur, terdapat kerucut-kerucut gunung api kecil antara lain Mandalawangi (1.650 meter), Mandalagiri, Gandapura, Kamojang dan lain-lainnya. Di sebelah selatan berjejer gunung api Malabar (2.343 meter), Patuha (2.434 meter), dan gunung Tilu. Sedangkan di sebelah barat terdapat satuan pematang homoklin yang merupakan perbukitan memanjang, membentuk daerah perbukitan Rajamandala-Padalarang. Beberapa puncak pematangnya antara lain Pasir Pabeasan, Pasir Balukbuk, dan Pasir Kiara.

Gunung-gunung itu bisa juga dilihat jika berdiri di teras Taman Ganesha yang berbentuk setengah lingkaran. Salah satu sisi taman tersebut terletak di  Jalan Ganesha, bersebrangan dengan kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Di atas teras itu terdapat petunjuk arah gunung-gunung di sekitar dataran tinggi Bandung berikut dengan ketinggiannya, sejak Gunung Manglayang (1.811 meter) di sebelah timur, Mandalawangi (1.60 meter), Graha (1.159 meter), Jaya (2.416 meter), Papandayan (2.660 meter), Kendang (2.607 meter), Masigit (2.076 meter), Dayeuh luhur (1.010 meter) dan Gunung Lalakon (970 meter) di sebelah barat.

Para ahli mengungkapkan, kondisi geologi dan geomorfologi dataran tinggi Bandung seperti itu terbentuk oleh pegunungan vulkanik yang terdapat di bagian utara dan selatan. Kisahnya bermula, saat lebih dari 20-17 juta tahun silam, pada Kala Miosen, sebagian besar permukaan bumi masih merupakan dasar samudera. Dalam umurnya yang masih muda, roman kulit bumi selalu berubah-ubah karena aktivitas yang berlangsung dalam perut bumi. Dataran Tinggi Bandung yang sebelumnya merupakan dasar samudera dalam yang kemudian berubah menjadi dasar samudera dangkal karena adanya aktivitas tersebut. Dataran paling awal yang terbentuk di bagian selatan, makin lama makin luas dengan terbentuknya gunung api baru seperti Gunung Patuha, Gunung Kamojang-Guntur, dan Gunung Malabar. Satuan gunung api dan perbukitan itu memagari daratan yang lebih rendah, di mana bermunculan bukit-bukit yang terpisah atau berkelompok menjadi jajaran perbukitan yang terdapat di daerah yang kini dinamakan Cimahi dan Dayeuhkolot. Dalan istilah geologi, bukit-bukit itu dikelompokkan menjadi satu dan dinamakan Satuan Perbukitan Terisolasi. Di salah satu tempat yang kini termasuk wilayah Kecamatan Batujajar, magma yang menerobos kulit bumi yang berlangsung sekitar 4-5 juta tahun lalu membentuk batuan beku berwarna abu-abu. Batuan tersebut menjadi ciri yang bisa dijumpai di bukit Lagadar, sebuah bukit yang terletak di Cimahi selatan.

Dalam Riwayat Geologi Dataran Tinggi Bandung (1959), geolog Kusumadinata mengungkapkan, saat bumi masih mengalami perubahan-perubahan revolusioner, pelipatan (folding) dan pembentukan gunung api, di sebelah utara lahir gunung api raksasa yang dinamakan Gunung Sunda. Nama gunung itu menjadi nama paparan kawasan ini dan sekaligus menjadi nama etnis yang jadi penghuninya. Puncak gunung tersebut menjulang tinggi sekitar 3.000-4.000 meter dengan garis tengah bagian dasarnya sekitar 20-30 kilometer. Karena puncak gunung tersebut selalu putih diselimuti salju, gunung api tersebut dinamakan Gunung Sunda. Masyarakat Sunda percaya, nama itu berasal dari kata cudda dalam Bahasa Sansekerta yang artinya putih, bersih, atau suci.

Umur Gunung Sunda rupanya tidak lama. Gunung api raksasa itu hancur setelah mengalami beberapa kali letusan dahsyat yang disertai adanya gerakan hebat di dalam perut bumi. Peristiwa ini disusul dengan lahirnya Gunung Tangkubanperahu yang dalam cerita Sangkuriang diceritakan berasal dari perahu yang terbalik setelah ditendang oleh Sangkuriang. Tidak jauh dari Gunung Tangkubanperahu terdapat Gunung Burangrang. Gunung tersebut merupakan parasit Gunung Sunda.

Secara geologi, sisa-sisa kehebatan letusan Gunung Sunda masih bisa disaksikan. Sekali waktu, jika dalam perjalanan dari Kota Bandung menuju arah Gunung Tangkubanperahu atau sebaliknya, cobalah berhenti sejenak pada salah satu sisi jalan tersebut, di mana terdapat deretan kios-kios pedagang jagung bakar. Setelah itu, arahkan pandangan ke selatan. Dalam cuaca cerah, maka akan tampak sebuah bukit yang dinamakan penduduk setempat Gunung Batu. Gunung Batu terletak di  Kampung Sukamulya, Desa Langensari, Kecamatan Lembang. Istilah gunung untuk tempat tersebut sebenarnya lebih cocok dinamakan bukit batu. Tempat itu bisa dijadikan awal penelusuran untuk membuktikan terjadinya patahan atau sesar di daerah selatan Lembang yang terjadi sewaktu Gunung Sunda runtuh. Dari tempat ini, patahan lembang akan tampak jelas. Garis patahnya memanjang sejauh kurang lebih 25 kilometer, sejak daerah Maribaya di sebelah timur, lalu mengarah ke barat. Di beberapa tempat, patahan tersebut membentuk jurang curam sedalam 300-400 meter dan lebar 300 meter. Patahan itu hilang di daerah Cisarua, tempat di mana terdapat telaga yang dinamakan Situ Lembang. Situ tersebut terletak sekitar lima kilometer dari simpang tiga jala raya Cisarua yang terletak pada ruas jalan raya yang menghubungkan Cimahi-Lembang di Kabupaten Bandung.

Karena kondisi jalan menuju tempat tersebut rusak berat, perjalanan menuju Situ Lembang hanya memungkinkan dicapai dengan kendaraan jip. Namun bagi mereka yang tidak membawa kendaraan, setiap saat selalu tersedia ojek motor yang mangkal di mulut jalan masuk dari Cisarua. Pemadangan di sekitar situ tersebut sangat indah, terutama bagi mereka yang menjadi pencinta alam atau senang bertualang di alam terbuka. Udaranya sejuk dengan suhu 12-20 derajat celcius, Untuk kepentingan pengairan, pada tahun 1912, situ tersebut dibendung.

Selama ini, kawasan sekitar Situ Lembang merupakan tempat latihan militer dan penggemblengan mental para pecinta alam Wanadri. Jika pandangan diarahkan ke arah utara dan barat dari situ tersebut, di depan kita tampak dinding alam yang menjulang setinggi 200-300 meter dan memanjang sekitar dua kilometer. Hutan pada dinding alam itu masih relatif utuh. Dinding alam tersebut merupakan saksi bisu sejarah keberadaan Gunung Sunda. Letusannya yang dahsyat menyisakan kaldera, di mana sebagian kecil sisinya masih bisa disaksikan jika berada di sekitar Situ Lembang.

Menyusuri sejarah geologi terbentuknya Cekungan Bandung rasanya belum lengkap jika tidak melangkahkan kaki ke arah barat, ke daerah yang selama ini dinamakan kawasan kars Padalarang. Kawasan kars adalah istilah bagi bentang alam permukaan dan bawah permukaan pada batu gamping yang pembentukannya dipengaruhi oleh proses pelarutan. Proto batu gamping, terutama yang berjenis reef, pada awalnya merupakan terumbu karang di pinggiran pantai yang biasanya dibentuk oleh koloni binatang koral yang mengalami proses pengendapan yang sempurna (Samodra, 2001). Ketika dataran tinggi Bandung masih merupakan dasar samudera dalam, perairan di daerah itu sangat mendukung kondisi fisik dan mutu lingkungan air laut di sekitarnya.

Karena itu, di sekitar perairan tersebut tumbuh subur koloni binatang karang. Namun akibat letusan gunung-gunung api di sana, perairanya mengalami pencemaran. Aliran lava gunung tersebut menyebar sampai ke daerah yang kini dinamakan Padalarang, sehingga merusak dan memutuskan kelangsungan hidup binatang koral di perairan tersebut. Setelah laut makin terdesak ke utaran dan dataran tinggi Bandung menjadi daratan, koloni binatang karang yang sebelumnya mengalami pengendapan yang sempurna, setelah mengalami proses geologi berubah menjadi bau gamping sehingga akhirnya terciptalah kawasan kars. Di dataran tinggi Bandung, kawasan kars membentang sepanjang daerah bagian barat, pada satu wilayah yang disebut Cipatat, Padalarang. Kedua daerah itu terletak sekitar 20 km arah barat Kota Bandung.

Kawasan itu persisnya dilewati ruas jalan raya yang menghubungkan Bandung-Cianjur dan Bandung-Purwakarta. Di kawasan itu, tedapat dua bukit gamping yang kerap dijadikan panduan lapangan. Yakni Gunung Masigit dan Pasir Pabeasan.  Bukit lainnya yang dinamakan Pasir Pawon di mana pada salah satu sisinya yang terbentuk tebing terdapat goa dan disebut Goa Pawon, pernah dijadikan tempat tinggal manusia prasejarah. Pasir dalam Bahasa Sunda sama artinya dengan bukit. Puncak bukit itu memiliki “taman batu” yang agak sulit ditemukan bandingannya. Bentuknya yang mempesona terjadi karena pelarutan karsitfikasi. Saking terkagum-kagum karena keindahan kawasan itu dan kawasan kars di sekitarnya, geolog Dr. Budi Brahmantyo dan Ketua Masyarakat Geografi Indonesia (MGI) Drs. T. Bachtiar S.E. yang dikenal sebagai penjelajah Bandung Purba, selalu menyempatkan diri berkunjung ke tempat ini bersama anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). Tetapi harap maklum, bukit Pasir Pawon hanya bisa dicapai setelah melalui jalan desa sejauh hampir dua kilometer. Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki melalui jalan setapak sejauh kurang lebih 500 meter. Lumayan untuk mereka yang tidak pernah jalan kaki karena perjalanan ditempuh dengan mendaki bukit.

Sisa-sisa koloni binatang karang yang kini sudah menjadi kawasan kars Padalarang sangat mudah dikenali.  Jika melewati Cianjur menuju Bandung, di daerah Cipatat akan dijumpai daerah yang di kiri-kanan jalan raya tersebut dipenuhi tobong-tobong pembakaran batu gamping. Di daerah ini, deru mesin pemotong marmer hampir tiada henti. Udara di sekitar daerah itu kotor. Partikel-partikel kapur yang sangat halus beterbangan tertiup angin ke segala penjuru. Selama ini, eksploitasi bahan galian daerah itu, selain memberikan sumbangan pendapatan, juga telah membuka lapangan kerja. Tidak sedikit penduduk yang mengandalkan sumber kehidupan di sana. Di sisi lain, pemerintah daerah setempat memetik keuntungan berupa pendapatan asli daerah sendiri (PADS) yang berasal dari retribusi dan berbagai pungutan lainnya. Tetapi yang menjadi pertanyaan, apakah keuntungan ekonomi jangka pendek dari derah itu akan sesuai dengan kerugian dalam jangka panang yang timbul karena kemerosotan lingkungan dan hancurnya salah satu halaman sejarah geologi dataran tinggi Bandung?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar